.

.

Laman

PANDAI BESI

Pandai Besi (sumber: Google)
Pandai Besi (sumber: Google)


Kerajinan Pandai Besi Rambah Mancanegara

PENESAK – Pandai besi, merupakan salah satu sentra kerajinan rakyat Kabupaten Ogan Ilir yang telah diwariskan nenek moyang sejak turun-temurun hingga kini.

Bahkan kerajinan pandai besi yang mencapai 800 perajin itu dapat dikatakan sudah menjadi profesi ataupun pekerjaan tetap bagi sebagian warga yang berdomisili di Bumi Caram Seguguk. Kabupaten Ogan Ilir yang merupakan daerah hasil pemekaran OKI lebih dari tujuh tahun silam memiliki segudang kerajinan rakyat.

Seperti penenun songket, pembuat kerupuk kemplang, anyaman tikar, hingga perajin pandai besi. Tanjung Batu merupakan salah satu kecamatan yang memiliki beragam kerajinan yang hingga kini masih dilakoni masyarakat setempat, seperti kerajinan emas perak, aluminium, anyaman tikar, sulam menyulam, termasuk kerajinan pandai besi.

Khusus untuk kerajinan pandai besi di Ogan Ilir mendominasi di Desa Tanjung Pinangan, Desa Limbang Jaya, Desa Tanjung Laut, Kecamatan Tanjung Batu, Desa Tanjung Dayang, Desa Mandi Angin, Kecamatan Inderalaya Utara, dan Desa Sungai Pinang, Kecamatan Sungai Pinang serta desa lain di Kecamatan Ogan Ilir.

Seperti di tiga desa Kecamatan Tanjung Batu, mayoritas kaum adam di sana menggeluti profesi sebagai perajin pandai besi. Bahkan menjadikan pekerjaan itu sebagai pekerjaan tetap dan mumpuni menghidupi kebutuhan keluarga. Berkat keseriusan dan ketekunan masyarakat menjadikan kerajinan pandai besi sebagai profesi, alhasil semua karya perajin pandai besi mampu merambah ke hampir semua provinsi di Indonesia, seperti Bengkulu, Jambi, Padang, Medan, Pekanbaru, Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi .

Bahkan produksi sebagian hasil perajin pandai besi sudah merambah ke negara tetangga, seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura. Suaryo, 37, salah satu perajin pandai besi Tanjung Batu mengatakan, sejak lahir bahkan jauh sebelum dirinya lahir, kerajinan pandai besi sudah ada. Rata-rata penduduk di Limbang Jaya, termasuk tetangga sekitar ahli dalam pembuatan alat-alat pertanian dan rumah tangga misalkan pisau, parang, mandau, arit, cangkul, dan sebagainya.

Bahkan tak sedikit penduduk asli yang membawa bekal sebagai perajin pandai besi yang sudah sejak lama merantau ke provinsi tetangga untuk mengadu nasib. Tentunya merantau dengan tetap melakoni pekerjaan sebagai perajin pandai besi. Itulah sebabnya semua karya perajin pandai besi Ogan Ilir sudah banyak tersebar ke semua provinsi di Indonesia atau bahkan hingga negara tetangga.

“Untuk pengelolaan terbilang masih sangat tradisional. Ya semua pekerjaan dilakukan secara tradisional, kecuali pada bagian-bagian tertentu saja seperti pengikiran dengan menggunakan alat modern,” ucap Aryo dikutip sindo.

Kendatipun semua pekerjaan yang dilakoni terbilang lancar, kata Aryo, sebagian besar perajin pandai besi masih terkendala akan bahan baku yang terbatas. Apalagi ketika demand tinggi sehingga membuat perajin ketar-ketir memenuhi permintaan tersebut lantaran terbatasnya bahan baku.

Sering terjadi ketika ada pesanan dalam jumlah besar yakni terkendala bahan baku. Bahan baku yang digunakan untuk membuat alat pertanian, rumah tangga, dan lainnya berasal dari besi- besi pilihan, misalnya per mobil, plat baja, besi pipa tebal, dan sejenisnya. Hal ini dimaksudkan menjaga kualitas hasil produksi agar tetap terjaga dan tahan lama. Begitu pula soal harga, terendah Rp10.000 per buah hingga jutaan rupiah, tergantung dari bentuk, ukuran, model, dan bahan baku yang dipakai.

Sementara soal pemasaran tidak ada kendala karena di desanya ada yang menampung hasil produksi alias distributor. Dalam hal pengelolaan, lanjut dia, terbilang agak rumit karena besi yang masih berbentuk batangan terlebih dulu dilakukan pembakaran dalam waktu yang cukup lama. Gunanya agar besi tersebut memuai. Pada kondisi memuai itulah besi yang posisinya seperti bara api dipukul seketika dengan alat pemukul besar dan memerlukan tenaga yang lumayan kuat. Pada saat itulah proses pembentukan besi mau dibentuk seperti apa, sesuai dengan selera.

Setelah besi terbentuk menjadi suatu benda yang dikehendaki, maka selanjutkan memasuki proses pencelupan atau pendinginan ke dalam air agar besi mengeras dan mampu mempertahankan bentuk yang diinginkan. Proses pembuatan sebuah parang misalkan belum bisa dikatakan selesai karena parang harus dikikir dan diampelas dahulu agar hasil yang didapat benar-benar maksimal.

Jika selesai parang tadi lalu dibersihkan dan dibuatkan pembungkus yang terbuat dari kulit asli. Ini dilakukan untuk menjaga produksi agar tetap bersih dan siap didistribusikan. Setali tiga uang, Roni, 55, perajin pandai besi lainnya asal Tanjung Pinang mengaku sudah sejak kecil melakoni sebagai perajin pandai besi. Hingga kini kerajinan yang merupakan tradisi leluhur tetap dan terus dilestarikan.

“Kami memutuskan untuk merantau ke Provinsi Jambi bersama keluarga. Awalnya tidak yakin, namun berkat kerja keras membuahkan hasil. Kami tinggal di Jambi itu hanya mengandalkan pekerjaan sebagai pandai besi saja,” tutur Roni.




Editor: Isrin Nurdin

No comments:

Post a Comment