.

.

Laman

PENGRAJIN EMAS

Tanjung Batu Sentra Pengrajin Emas

Pengerajin emas di desa tanjung baru. (sumber: KS).
Pengerajin emas di desa tanjung batu. (sumber: KS).


PENESAK – Hampir sebagian besar masyarakat di Kelurahan Tanjung Batu, Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir secara turun menurun berusaha menjadi pengrajin emas. Kini, daerah ini masih menjadi sentra industri kerajinan emas.

Sedikit yang mengetahui bahwa sebagian perhiasan yang beredar di pasaran Sumatera Selatan (Sumsel) diproduksi pengrajin  asal Tanjung Batu. Konon, di kawasan Ogan Ilir, selain Tanjung Batu penghasil kerajinan emas di daerah Tanjung Atap dikenal pengrajin seng (pembuat alat-alat dapur, Desa Tanjung Batu Seberang pengrajin kayu (sebagai pembuatan rumah Knockdown), Tanjung Tambak sentral pembuatan kipas dari bambu, Desa Senuro sentral pembuatan bakul/rantang bambu. Semua desa di kecamatan ini memiliki keahlian masing-masing.

Rian Hafidz (24), sudah lama berprofesi pengrajin emas kepada Harian Umum Kabar Sumatera menuturkan, ia adalah salah satu pewaris keahlian pengrajin emas dari orang tua dan pamannya.
“Aku diajari oleh orang tua bagaimana cara jadi pengrajin emas,” kata Rian singkat.

Usai menamatkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas, Rian langsung melakoni usaha usaha pembuatan perhiasan. Setiap harinya warga yang tinggal di Tanjung Batu, RT 07 Nomor 28 memeroleh pembekalan dari orangtuanya tentang cara mengolah emas batangan menjadi sebentuk perhiasan.

Tutur Rian, layaknya seorang penulis, pengrajin emas juga memerlukan meja seukuran 50 cm x 150 cm. Di atas meja ini, setiap pengrajin menggunakan peralatan pingset, palu kecil, soder, dan alat-alat kecil lainnya. Pembuatan perhiasan ini dikerjakan berdasarkan pesanan dari toko emas yang tersebar di provinsi ini.

Lanjut Rian, sebelum berubah menjadi perhiasan kebanyakkan pedagang membawa emas dalam bentuk batangan kemudian diolah sesuai permintaan. Uniknya para pengrajin hanya bisa mengerjakan pesanan yang sesuai dengan spesialis kemampuannya.

“Kami pengrajin perhiasan emas di sini (red-Kelurahan Tanjung Batu) hanya bisa  mengerjakan pesanan sesuai keahlian masing-masing,” beber Rian seraya berkata pengrajin yang biasa mengerjakan perhiasan kalung dan gelang belum tentu sanggup  mengerjakan perhiasan berupa cincin atau anting.

Jelasnya, proses pembuatan perhiasan ini sangat sederhana. Yakni, setelah emas batangan dilebur dalam bentuk cairan lalu dibentuk seperti lempengan. Untuk pembuatan kalung lempengan ini harus panjang, sedang untuk gelang lempengannya pendek. Lempengan mulai dibentuk ukuran kecil sesuai dengan yang inginkan. Dari ukuran kecil inilah motif dapat dibentuk dengan menggunakan peralatan yang sederhana.

“Walau pun begitu diperlukan ketelitian yang ekstra, sebab jika pembuatan tidak sesuai dengan pesanan kita harus mengulang lagi,” ucapnya.

Kata Rian, biasanya pengrajin perhiasan  menerima upah pengerjaan perhiasan dari toko emas sesuai dengan pasaran. Satu unit kalung upahnya sebanyak Rp 50.000 dan gelang sebanyak Rp 20.000 dengan bahan emas. Bila bahannya dari perak lebih murah. Untuk kalung upah pembuatannya Rp 20.000 dan gelang sebanyak Rp 10.000.

“Dalam satu hari kami hanya bisa menyelesaikan satu sampai dua kalung emas,” ungkap Riyan dikutip KS.

Bagi Riyan ternyata menjadi pengrajin emas lebih dari cukup. Penghasilan yang ia peroleh dari bisnis ini bisa memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Sekalipun pada usaha kerajinan emas ini ada yang namanya pasang suarut permintaan.

“Pernah saja selama sebulan order pesanan tidak ada yang masuk, sehingga kita harus bisa mencari kerja lain sementara menunggu pasaran mulai ramai. Yo, aku berharap ke depan aku biso buka toko perhiasan perak,” pinta Riyan.



Editor: Isrin Nurdin

No comments:

Post a Comment