.

.

Laman

Wednesday, 21 September 2016

Desa Tebedak I dan Tebedak II - Ogan Ilir

Masjid Istiqomah Desa Tebedak I.
Sejarah Desa Tebedak I dan Tebedak II

Desa Tebedak I dan Tebedak II adalah sebuah desa hasil pemakaran dari desa Tebedak pada tahun 2009. Nama Tebedak sendiri menurut cerita yang berkembang ada dua persepsi. Persepsi pertama yg didapat dari kepala desanya mengatakan bahwa nama desa tebedak berasal dari kata 'bedak' yang artinya 'belabuh' atau mampir. 


Karena orang-orang dulu sering melakukan perjalan dan dalam perjalanan mereka singgah di daerah ini dan bila ada yang bertanya darimana mereka akan menjawab dari “bedak” dan kebetulan di daerah ini ada sebuah pohon cempedak besar atau dalam bahasa daerah ini disebut tebedak hingga akhirnya kata 'bedak' berubah jadi 'tebedak'.

Dan persepsi lain dari sekdesnya mengatakan bahwa pada jaman kerajaan majapahit dan sriwijaya dahulu ada seorang patih dari kerajaan majapahit dari Pulau Jawa yang bernama Pangeran Lebung Tebedak yang ketika itu di perintahkan oleh raja kerajaan mapahit untuk menyelesaikan persengketaan dan kekacauan di sebuah daerah yang kini ditempati masyarakat Desa Tebedak. Dan pangeran itu berhasil menyelesaikan kekacauan tersebut. Hingga tempat ini dinamai Tebedak sesuai dengan nama pangeran dari Jawa tersebut.


Kehidupan Sosial Masyarakat
 
Masyarakat Desa tebedak terdiri dari 500 kepala keluarga dengan 1973 jiwa. Masyarakat desa tebedak masih banyak penduduk asli dan sebagian lagi pendatang dari kota seperti Palembang, jawa dan sebagainya. Hampir 95% masyarakatnya bermata pencarian sebagai petani yaitu petani karet dan sisanya sebagai pedagang, pembuat bata atau PNS. 

Lahan karet yang dikerjakan oleh masyarakat desa ini adalah karet pribadi milik sendiri kalaupun ada yang tidak menilki kebun karet sendiri, ia mengerjakan kebun karet milik warga lain yang mempunyai banyak kebun karet dengan cara bagi hasil 50% untuk pemilik kebun dan 50% pekerjanya. Di desa ini tidak ada perkebunan besar milik swasta atau pemerintah, yang ada hanya perkebunan karet rakyat.

Untuk pembuat batu bata sendii di desa ini sabagian besar adalah pendatang dari Palembang yang mencoba mengadu nasib di desa ini. Masyarakat desa ini bisa dikatakan sudah sejahtera karena sudah banyak masyarakat yang telah mengeyam pendidikan di SMA dan tak sedikit pula yang sampai keperguruan tinggi.


Adat Istiadat
 
Jika ditanya apakah masyarakat desa tebedak masih memegang adat istiidat tradisional khas daerahnya? Jika mau dikatakan masih memegang adat istiadat tradisional sebenarnya tidak, tapi jika dikatakan tidak masih ada adat istiadat tradisional yng masih dipakai dalam masyarakat seperti, gotong royong, acara 'beinai' dalam pernikahan, dan 'saroful annam' yaitu semacam nyanyian. Dan dalam gotong royong sebelum pembuatan rumah ada sebuah tradisi yang disebut 'negak tiang guru' yang intinya berdoa untuk keberkahan rumah dan keselamatan bagi pemilik rumah dan juga keselamatan dalam pengerjaan rumah tersebut.

Dan juga di desa ini ada semacam gua kecil yang masyarakat Desa Tebedak menyebutnya 'Gua Pinang Raya' yang memiliki semacam mata air yang konon katanya jika seorang gadis mandi disana maka akan menjadi cantik dan juga jika dalam rantauan masyarakat desa ini berada dalam kesulitan dan ketika itu juga ia mengingat tentang gua ini, mudah-mudahan terlepas dari kesulitan tersebut, tapi tidak semua masyarakat percaya karena mereka takut disebut syirik.


Sarana dan Prasarana Desa Tebedak

Dalam menunjang pemerintahan dan kesejahteraan masyarakat, Desa Tebedak memiliki sarana dan prasarana yang cukup memadai. Mulai dari sarana dan prasarana pendidikan, desa ini memiliki 1 SD, 1 SMP, 1 MA, TK dan PAUD yang masih menumpang di kantor kepala desa. 

Sarana dan prasarana kesehatan yang dimiliki seperti Puskesmas dan Posyandu. Sarana dan Prasarana transportasi meliputi jalan raya desa dan jalan-jalan setapak tiap-tiap gang dalam desa, namun untuk angkutan umum memang kurang karena sebagian masyarakat memiliki kendaraan sendiri dan juga untuk memenuhi kebutuhannya masyarakat tidak perlu keluar kota untuk membeli kebutuhannya yang pasti akan menggunakan angkutan itu sangat kecil.


Program Pemerintah Untuk Desa
 
Di desa tebedak ini, pada tahun 2010 lalu mendapatkan bantuan dana dari program PNPM Mandiri yang telah digunakan untuk pembuatan jalan-jalan setapak di dalam kampung. Selain itu ada juga bantuan bibit karet dari pemerintah provinsi yang diberikan kepada kelompok-kelompok tani yang ada di desa ini, serta bantuan dari pemerintah kabupaten yang oleh masyarakat dibelikan alat-alat persedekahan seperti, tenda dan terpal yang bias dipakai bersama bila masyarakat membutuhkan.

Semua program-program tersebut mekanisme penyaluran dananya adalah button up, kecuali bantuan bibit karet dari pemerintah provinsi. Karena aliran dana yang masuk ke desa ini semua penggunaannya sesuai keinginan masyarakat, masyarakatlah yang mnentukan digunakan untuk pembangunan apa dana tersebut kecuali, bantuan bibit karet yang diberikan langsung oleh pemerintah dalam bentuk nyata barang yang jelas harus digunakan oleh masyarakat untuk berkebun.

No comments:

Post a Comment